Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik




ИмеAncaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik
страница9/12
Дата на преобразуване26.12.2012
Размер0.64 Mb.
ТипДокументация
източникhttp://dessaspirits.weebly.com/uploads/9/7/7/2/9772705/ancaman_global_freemasonry.rtf
1   ...   4   5   6   7   8   9   10   11   12
KAUM MASON DAN FILOSOFI NATURALIS


Adapun teori seleksi alam yang dianggap sebagai satu kontribusi khusus Darwin, juga semata merupakan teori yang telah diajukan sebelumnya oleh sejumlah ilmuwan. Namun, para ilmuwan sebelum era Darwin tidak menjadikan teori seleksi alam sebagai argumen terhadap penciptaan; sebaliknya, mereka memandangnya sebagai mekanisme yang dirancang oleh sang Pencipta untuk melindungi spesies dari distorsi yang turun-temurun. Seperti Karl Marx mengambil konsep idealis Hegel tentang “dialektika”, dan membengkokkannya agar sesuai dengan filosofinya sendiri, begitu pula Darwin mengambil teori seleksi alam dari ilmuwan kreasionis dan menggunakannya sedemikian rupa hingga memenuhi gagasan naturalisme.

Oleh karenanya, kontribusi pribadi Darwin dalam formulasi Darwinisme hendaknya tidak berlebihan. Konsep-konsep filosofis yang ia gunakan ditemukan oleh para filosof naturalisme sebelumnya. Jika Darwin tidak mengajukan teori evolusi, akan ada orang lain yang melakukannya. Pada kenyataannya, sebuah teori yang mirip dengan ini diajukan pada periode yang sama oleh ilmuwan natural Inggris lainnya yang bernama Alfred Russel Wallace; itulah sebabnya Darwin bergegas menerbitkan Origin of the Species.

Akhirnya, Darwin muncul di panggung ketika perjuangan panjang telah dimulai di Eropa untuk menghancurkan keimanan akan Tuhan dan agama, menggantinya dengan filosofi naturalis dan sebuah model humanis untuk kehidupan manusia. Kekuatan yang paling signifikan di balik perjuangan ini bukanlah pemikir yang ini atau yang itu, melainkan organisasi Masonik, yang memunyai begitu banyak anggota dari pemikir, ideolog, dan pemimpin politik.

Fakta ini diakui dan diungkapkan oleh sejumlah tokoh Kristen masa itu. Paus Leo XIII, pemimpin Katolik dunia, mengeluarkan sebuah dekrit yang terkenal pada tahun 1884, berjudul Humanus Genus di mana ia menyampaikan banyak pernyataan penting tentang Masonry dan aktivitas-aktivitasnya. Ia menulis:

Pada periode ini para pendukung setia setan tampaknya sedang menggabungkan diri, dan berjuang dengan gelora yang padu, dipimpin atau dibantu oleh asosiasi yang tersebar luas dan terorganisasi kuat yang disebut Freemason. Tidak lagi merahasiakan tujuan-tujuan mereka, mereka sekarang sedang bangkit dengan berani melawan Tuhan sendiri.

… Karena, dari yang ditunjukkan dengan jelas oleh apa telah kami sebutkan di atas, apa yang merupakan tujuan utama mereka mendesakkan diri ke depan mata yakni, penggulingan total keseluruhan tatanan politik dan agama di dunia yang dihasilkan ajaran Kristen, dan penggantian dengan sebuah tatanan baru sesuai dengan gagasan mereka “di mana pondasi dan hukum akan diambil dari naturalisme saja.” 105

Fakta penting yang dinyatakan oleh Leo XIII pada kutipan di atas adalah upaya untuk menghancurkan sama sekali nilai-nilai moral yang diajarkan oleh agama. Apa yang coba dilakukan oleh Masonry dengan bantuan Darwinisme adalah menghasilkan masyarakat yang bobrok secara moral dan tidak mengakui hukum ketuhanan, tidak takut akan Tuhan, dan mudah terbujuk untuk melakukan segala macam kejahatan. Apa yang dimaksud di atas dengan “sebuah tatanan baru sesuai dengan gagasan mereka di mana pondasi dan hukum akan diambil dari naturalisme saja” adalah sejenis model sosial.

Kaum Mason, karena menganggap Darwinisme dapat memenuhi tujuan-tujuan mereka, berperan penting dalam penyebarannya ke tengah massa. Segera setelah teori Darwin diterbitkan, sekelompok propagandis sukarela terbentuk di sekitarnya; yang paling terkenal adalah Thomas Huxley yang disebut ”bulldog” Darwin. Huxley, “dengan pembelaannya yang berapi-api adalah faktor tunggal yang paling bertanggung jawab akan penerimaan yang pesat terhadap Darwinisme”106 menggiring perhatian dunia kepada teori evolusi pada debat di Museum Universitas Oxford yang dimasukinya pada tanggal 30 Juni 1860 dengan bishop Oxford, Samuel Wilberforce.

Dedikasi Huxley yang luar biasa dalam menyebarkan gagasan evolusi, serta koneksinya yang kuat, semakin nyata dengan fakta berikut: Huxley adalah anggota Royal Society, salah satu lembaga ilmiah paling bergengsi di Inggris dan, seperti hampir semua anggota lembaga ini, adalah Mason senior.107 Anggota lain Royal Society memberi Darwin dukungan yang signifikan, baik sebelum maupun sesudah bukunya diterbitkan.108 Penerimaan masyarakat Masonik ini akan Darwin dan Darwinisme sampai ke wujud penganugerahan medali Darwin, seperti halnya Hadiah Nobel, setiap tahun untuk ilmuwan yang dianggap berhak menerimanya.

Pendeknya, Darwin tidak berjalan sendirian; sejak saat teorinya diajukan, dia menerima dukungan dari kelas-kelas dan kelompok-kelompok sosial yang kalangan intinya adalah kaum Mason. Dalam bukunya, Marxisme dan Darwinisme, pemikir Marxis Anton Pannekoek menuliskan tentang fakta penting ini dan menggambarkan dukungan yang diberikan kepada Darwin oleh “kaum borjuis”, yaitu kelas kapitalis Eropa yang kaya-raya:

Bahwa Marxis meraih posisi penting semata berkat peranannya dalam perjuangan kelas proletarian, diketahui semua orang…. Namun sulit memahami kenyataan bahwa Darwinisme telah mengalami pengalaman yang serupa dengan Marxisme. Darwinisme bukan sekadar teori abstrak yang diadopsi oleh dunia ilmiah setelah mendiskusikan dan mengujinya dengan sikap objektif semata. Tidak, segera setelah Darwinisme menampakkan diri, ia mendapatkan para pembela yang antusias dan penentang yang berapi-api…. Darwinisme juga memainkan peran dalam perjuangan kelas, dan berkat peranannya ini ia menyebar begitu pesatnya dan mendapatkan pembela yang antusias dan penentang yang tajam.

Darwinisme bertindak sebagai sarana bagi kaum borjuis dalam pertarungannya melawan kelas feodal, melawan para bangsawan, pemegang hak kepasturan, dan tuan-tuan tanah feodal…. Yang diinginkan oleh kaum borjuis adalah menyingkirkan kekuatan lama yang berkuasa yang menghadang jalan mereka…. Dengan bantuan agama, para pendeta menguasai massa ramai dan siap menentang tuntutan kaum borjuis….

Ilmu alam menjadi senjata melawan kepercayaan dan tradisi; sains dan hukum-hukum alam yang baru ditemukan diajukan; dengan senjata-senjata inilah kaum borjuis berjuang….

Darwinisme datang pada saat dibutuhkan; teori Darwin bahwa manusia adalah keturunan dari hewan yang lebih rendah menghancurkan seluruh landasan dogma Kristen. Karena itulah, segera setelah Darwinisme menunjukkan diri, kaum borjuis menyambarnya dengan penuh semangat.

…Di bawah kondisi-kondisi ini, bahkan diskusi-diskusi ilmiah diselenggarakan dengan semangat dan gairah pertarungan kelas. Karenanya, tulisan-tulisan yang tampak pro dan kontra terhadap Darwin berkarakter polemik sosial, walaupun pada kenyataannya membawa nama para penulis ilmiah…. 109

Walaupun Anton Pannekoek, yang berpikir dengan kerangka analisa kelas Marxis, mendefinisikan kekuatan yang menyebarkan Darwinisme dan menciptakan sebuah pertarungan terorganisasi melawan agama sebagai “borjuis”, jika kita kaji masalahnya di bawah terangnya bukti-bukti historis, akan tampak bahwa ada organisasi di dalam kaum borjuis yang memanfaatkan Darwinisme untuk mengusung perang mereka melawan agama. Organisasi itu tak lain tak bukan adalah Masonry.

Fakta ini jelas baik dari bukti historis maupun sumber-sumber Masonik. Salah satu sumber ini adalah sebuah artikel karya Imam Mason Selami Isindag yang berjudul "Hambatan bagi Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Masonry", yang muncul pada Buletin Tahunan Loge Besar Mason Turki yang Bebas dan Disetujui pada tahun 1962. Pada awal artikel ini, Isindag mengulangi klaim klasik Masonik bahwa agama adalah mitos yang diciptakan oleh manusia, dan monoteisme bertentangan dengan logika dan sains. Selanjutnya, ia menguraikan penghasut sebenarnya dari perang melawan agama yang dilakukan di bawah kedok “sains”:

Akan teramati bahwa di dalam perjuangan untuk menyebarkan ilmu pengetahuan ini kaum Mason dikenal telah berpartisipasi dalam setiap tingkatan. Alasannya adalah karena Masonry di dalam setiap periode senantiasa dituntun oleh logika, ilmu pengetahuan, dan kedewasaan, artinya, oleh kebijaksanaan. Sejak berdirinya, ia telah berperang melawan takhyul dan mitos. 110

Namun faktanya, yang merupakan “takhyul dan mitos” itu bukanlah agama, sebagaimana diklaim kaum Mason; melainkan landasan dari kepercayaan materialis, naturalis, dan evolusionis yang mereka dukung. Bukti terjelas dari fakta ini adalah gagasan-gagasan mereka yang ketinggalan zaman, pengulangan-pengulangan mereka tentang berbagai keyakinan kosong dari peradaban pagan Mesir dan Yunani, yang telah digugurkan oleh penemuan-penemuan sains modern.

Perbandingan dari fakta-fakta ilmiah yang sesuai dengan asal usul kehidupan dan keyakinan Masonik tentangnya akan memadai bagi kita untuk menarik kesimpulan akan hal ini.

TEORI MASONIK TENTANG ASAL USUL KEHIDUPAN


Sebagaimana dinyatakan di awal, teori evolusi bersandar pada klaim bahwa makhluk hidup tidak diciptakan, tetapi muncul dan berkembang karena kebetulan dan hukum-hukum alam. Untuk menguji teori ini secara ilmiah, perlu diperhatikan setiap tahapan dari proses yang direka ini, dan mengkaji dapat tidaknya proses semacam itu terjadi di masa lampau dan apakah proses demikian itu mungkin.

Langkah pertama dari proses ini adalah kondisi hipotetis di mana materi tak hidup dapat memunculkan organisme hidup.

Sebelum mengamati kondisi ini, kita harus mengingat hukum yang telah diakui di dalam biologi sejak masa Pasteur: “Kehidupan berasal dari kehidupan”. Artinya, organisme hidup hanya dapat dimunculkan dari organisme hidup lainnya. Misalnya, mamalia lahir dari induknya. Spesies-spesies hewan lainnya menetas dari telur yang dierami induknya. Tumbuhan berkembang dari biji. Organisme bersel tunggal seperti bakteri membelah diri dan berkembang biak.

Tidak pernah sekali pun terjadi sebaliknya. Sepanjang sejarah dunia, tidak seorang pun pernah menyaksikan materi tak hidup melahirkan makhluk hidup. Tentu saja, ada sebagian dari mereka yang hidup di Mesir dan Yunani Kuno, serta pada Abad Pertengahan yang mengira telah mengamati hasil seperti itu: orang Mesir percaya bahwa katak melompat keluar dari lumpur Nil, kepercayaan yang juga didukung oleh para filsuf Yunani Kuno seperti Aristoteles. Di Abad Pertengahan, diyakini bahwa tikus lahir dari gandum di lumbung. Namun, semua keyakinan ini terbukti sebagai hasil dari kebodohan, dan akhirnya, dalam percobaannya yang terkenal di tahun 1860, Pasteur membuktikan bahwa bahkan bakteri, bentuk kehidupan yang paling dasar, tidak muncul tanpa pendahulu, artinya, mustahil benda tak bernyawa menghasilkan kehidupan.

Namun, teori evolusi tergantung pada kemustahilan ini karena klaimnya bahwa makhluk-makhluk hidup lahir dan berkembang tanpa keterlibatan sebentuk pencipta, dan ini mensyaratkan bahwa pada tahap-tahap awal skenario rekaan ini, makhluk hidup muncul dari kebetulan.

Darwin berusaha menjelaskan asal usul kehidupan, yang hanya sedikit diketahuinya, dalam sebuah kalimat pendek, di mana ia menyatakan bahwa kehidupan pertama kali mestilah berupa “semacam kolam kecil yang hangat”, 111 namun para evolusionis setelahnya merasa khawatir untuk memperdalam masalah ini. Walau demikian, berbagai upaya yang dilakukan sepanjang abad kedua puluh untuk memberikan penjelasan evolusionis tentang asal usul kehidupan hanya kian memperdalam kebuntuan yang menjebak para evolusionis. Selain tidak mampu memberikan bukti ilmiah sedikit pun bahwa kehidupan dapat bermula dari materi tak hidup, para evolusionis juga tidak mampu memberikan satu pun penjelasan teoretis. Ini karena struktur organisme hidup bersel tunggal yang paling dasar pun teramat kompleks. Secara matematis bahkan mustahil bahwa unsur pokok sel protein, DNA atau RNA dapat muncul secara kebetulan, apalagi sel itu sendiri.

Fakta tentang mustahilnya kehidupan muncul melalui peristiwa kebetulan sendiri membuktikan adanya rancangan, dan ini pada gilirannya membuktikan fakta penciptaan. Tentang masalah ini, ahli astronomi dan matematika terkenal dari Inggris, Fred Hoyle, berkomentar:

Tentu saja, teori semacam itu (bahwa kehidupan disusun oleh sebentuk kecerdasan) begitu jelas sehingga siapa pun akan bertanya-tanya mengapa tidak diterima sebagai terbukti dengan sendirinya. Alasannya lebih bersifat psikologis daripada ilmiah. 112

“Alasan psikologis” yang disebutkan Hoyle ini adalah watak para evolusionis, di mana mereka berkeras menolak sejak awal, setiap hasil yang akan membuat mereka menerima keberadaan Tuhan dan mengondisikan diri mereka dengan ini.

Pada buku lain yang berfokus pada ketidaksahihan teori evolusi, kami mengutip banyak pengakuan para evolusionis tentang fakta ini dan mengkaji hipotesis tidak masuk akal yang diajukan para evolusionis secara membuta semata untuk menolak keberadaan Tuhan. Namun pada titik ini, kita akan memfokuskan perhatian kepada loge Masonik untuk memahami pandangan mereka akan hal ini. Walau demikian jelas bahwa “kehidupan diciptakan oleh Pencipta yang cerdas”, bagaimana pendapat para Mason?

Imam Mason, Selami Isindag, dalam bukunya yang ditujukan untuk kalangan Mason berjudul Evrim Yolu (Jalan Evolusi) menjelaskan sebagai berikut:

Karakteristik terpenting dari ajaran moralitas kita adalah tidak memisahkan diri dari prinsip-prinsip logika dan tidak memasuki teisme (ketuhanan), makna-makna rahasia, atau dogma yang tidak diketahui. Dengan landasan ini kita menegaskan bahwa penampakan kehidupan pertama bermula di dalam kristal-kristal pada kondisi-kondisi yang tidak dapat kita ketahui atau temukan saat ini. Makhluk hidup lahir sesuai dengan hukum evolusi dan perlahan-lahan menyebar di seluruh dunia. Sebagai hasil dari evolusi, manusia sekarang ini muncul dan berkembang melampaui hewan baik dalam kesadaran maupun kecerdasan. 113

Penting kita perhatikan hubungan sebab akibat yang diajukan dalam kutipan di atas: Isindag menekankan bahwa karakteristik Masonry yang terpenting adalah menolak teisme, yakni kepercayaan akan Tuhan. Dan segera setelahnya, dia mengklaim “berlandaskan ini” bahwa kehidupan muncul secara spontan dari materi tak hidup, dan kemudian mengalami evolusi yang menghasilkan kemunculan manusia.

Kita akan amati bahwa Isindag tidak mengajukan bukti ilmiah apa pun untuk mendukung teori evolusi. (Fakta tiadanya bukti ilmiah diisyaratkan dengan kata-kata tumpul bahwa ini adalah fakta “yang tidak dapat kita ketahui atau temukan saat ini”). Satu-satunya penyokong yang diberikan Isindag untuk teori evolusi adalah penolakan Masonik akan teisme.

Dengan kata lain, kaum Mason adalah evolusionis karena mereka tidak mengakui keberadaan Tuhan. Inilah satu-satunya alasan mereka menjadi evolusionis.

Di dalam konstitusi “Konsili Agung Turki” yang diselenggarakan oleh Mason Turki tingkat ke-33, skenario evolusionis sekali lagi disebutkan, dan penolakan kaum Mason akan penjelasan kreasionis terungkap dalam kata-kata berikut ini:

Pada masa yang amat awal dan sesuai dengan proses inorganik, kehidupan organik muncul. Untuk menghasilkan organisme seluler, sel-sel berkumpul. Kemudian, kecerdasan melesat maju dan lahirlah manusia. Tapi dari mana? Kita terus bertanya-tanya. Apakah ia berasal dari tiupan nafas Tuhan kepada lumpur tak berbentuk? Kita menolak penjelasan dari bentuk penciptaan yang abnormal; bentuk penciptaan yang memisahkan manusia. Karena kehidupan dan silsilahnya ada, kita harus mengikuti jalur filogenetis dan merasakan, memahami dan mengakui bahwa ada sebuah roda yang menjelasan perilaku luar biasa ini, yakni aksi “lompatan”. Kita harus meyakini bahwa terdapat sebuah tahapan perkembangan dengan serbuan besar aktivitas yang menyebabkan kehidupan berlanjut pada sebuah momen tertentu dari tahapan itu ke tahapan lainnya. 114

Di sini sangat mungkin kita mengenali fanatisme Masonik. Ketika menyebutkan bahwa mereka “menolak bentuk penciptaan yang mengecualikan manusia”, penulis mengulangi dogma dasar humanisme, bahwa “manusia adalah makhluk tertinggi yang ada,” dan mengumumkan bahwa kaum Mason menolak penjelasan selain itu. Ketika menyebutkan, “bentuk penciptaan yang tidak normal”, yang ia maksud adalah turut campur Tuhan dalam penciptaan makhluk hidup, dengan menolak kemungkinan ini secara apriori. (Namun, yang sesungguhnya tidak normal adalah bagaimana kaum Mason menerima, tanpa observasi maupun eksperimen, keyakinan tidak masuk akal bahwa materi tidak hidup menjadi hidup secara kebetulan dan membentuk kehidupan di muka bumi, termasuk manusia.) Akan tampak bahwa dalam penjelasan Masonik tidak ada lontaran berupa bukti ilmiah. Kaum Mason tidak berkata, “Ada bukti evolusi dan karenanya kami menolak penciptaan.” Mereka semata dibutakan oleh fantisme filosofis.

Publikasi-publikasi Masonik berkeras dengan pendirian ini. Master Mason Selami Isindag mengklaim bahwa, “Selain alam tidak ada kekuatan lain yang membimbing kita, dan bertanggung jawab atas pemikiran dan tindakan kita.” Dia segera melanjutkan, “kehidupan berawal dari satu sel dan mencapai tahapannya saat ini sebagai hasil dari berbagai perubahan dan evolusi.”115 Selanjutnya dia menyimpulkan apa arti teori evolusi bagi kaum Mason:

Dari sudut pandang evolusi, manusia tidak berbeda dengan binatang. Dalam pembentukan manusia dan evolusinya tidak ada kekuatan khusus selain dari yang berlaku pada binatang. 116

Penegasan ini menunjukkan dengan jelas mengapa kaum Mason menganggap teori evolusi begitu penting. Tujuan mereka adalah untuk mempertahankan gagasan bahwa manusia tidak diciptakan dan untuk menunjukkan kebenaran filosofi materialis humanis mereka sendiri.

Jadi, dengan alasan inilah kaum Mason, hingga tingkat apa pun, memercayai teori evolusi dan berusaha menyebarkannya ke seluruh masyarakat.

Ini menunjukkan bahwa kaum Mason, yang tak henti-hentinya menuduh mereka yang memercayai Tuhan sebagai dogmatis, justru bersikap dogmatis.


DUKUNGAN PALSU KAUM MASON

TERHADAP HAECKEL


Ketika kita mengamati literatur Masonik, di luar kesetiaan buta mereka akan teori evolusi, kita ditohok oleh kejahilannya yang amat dalam. Misalnya, jika kita mengkaji sumber-sumber Turki, kita temukan bahwa klaim-klaim evolusionis yang terbukti palsu di seperempat pertama abad kedua puluh masih dipertahankan dengan penuh semangat. Salah satunya adalah kisah Haeckel dan teorinya tentang embrio yang disebutkan nyaris di semua terbitan Masonik.

Kisahnya adalah tentang seorang ahli biologi Jerman yang bernama Ernst Haeckel, yang merupakan teman dekat dan pendukung Charles Darwin, dan salah satu pendukung utama teori ini setelah kematian Darwin. Untuk membangun kesahihan teori ini, Haeckel mengkaji embrio dari bermacam-macam makhluk hidup, dan mengutarakan bahwa mereka semua saling menyerupai dan sebelum kelahiran masing-masingnya mengalami proses miniatur dari evolusi. Untuk mendukung klaim ini, dia menggambar sejumlah perbandingan antara embrio-embrio yang berbeda, dengan tujuan untuk meyakinkan banyak orang dari kesahihan teori evolusi di paro pertama abad kedua puluh.

Sebagaimana telah disebutkan, sumber-sumber Masonik memandang tesis embriologi ini luar biasa pentingnya, yang dinamakan “ontogeni merekapitulasi filogeni”. Imam Naki Cevad Akkerman, di dalam sebuah artikel berjudul “Konsep Kebenaran dan Prinsip-Prinsip Masonry” di Mimar Sinan, menyebut tesis ini sebagai sebuah “hukum”, artinya, ia mengangkatnya ke tingkat fakta ilmiah yang tak terbantahkan. Ia menulis:

…Kita akan mengkaji sebuah hukum alam yang sangat penting. Inilah rumusan yang diajukan oleh Haeckel, "ontogeni merekapitulasi filogeni". Jika kita mengambil manusia sebagai contoh, arti hukum ini adalah sebagai berikut: Berbagai perubahan morfologis serta perubahan susunan dan fungsi organ-organ yang dialami manusia, dari pembentukan sel pertama di dalam rahim ibunya, sampai ia lahir dan selama hidupnya, hingga dia mati, tidak lebih dari sebuah rekapitulasi dari perubahan yang telah dialaminya sejak permulaan, dari pembentukan sel awalnya di darat dan di air hingga kini.1

Imam Selami Isindag juga memandang teori Haeckel ini sangat penting. Di dalam sebuah artikel bertajuk "Doktrin-Doktrin Masonik", ia menulis, “Di dalam percobaannya, Darwin membuktikan bahwa beragam spesies hewan pertama kali berkembang dari sebuah sel tunggal dan kemudian dari sebuah spesies tunggal.” Lalu ia menambahkan:

Haeckel melakukan kajian-kajian yang medukung semua penemuan eksperimental ini. Dia percaya bahwa hewan yang paling dasar, Monera, menjadi suatu makhluk hidup organik dari unsur-unsur materi inorganik. Dia menunjukkan bahwa terdapat kesatuan pada dasar segala sesuatunya. Monisme ini adalah kombinasi dari materi dan jiwa. Terdapat dua aspek zat yang membentuk dasar mereka. Apa yang dipercayai Masonry tentang ini bersesuaian dengan penemuan-penemuan ilmiah dan eksperimental ini.2

Di dalam teks Masonik lainnya, Haeckel disebutkan sebagai seorang “sarjana besar”, dan tesisnya bahwa “ontogeni merekapitulasi filogeni”diklaim sebagai bukti dari teori evolusi.3

Akan tetapi, Ernst Haeckel yang diyakini kaum Mason sebagai seorang sarjana besar tak lain dari seorang penipu yang lihai yang dengan sengaja memalsukan penemuan-penemuan ilmiah, dan tesis yang mereka terima sebagai "hukum" (ontogeni merekapitulasi filogeni) adalah salah satu kebohongan terbesar di dalam sejarah ilmu pengetahuan.

Kebohongan ini ditemukan pada gambar-gambar embrio yang dibuat oleh Haeckel. Untuk menunjukkan kesamaan antara embrio manusia, ayam, kelinci, salamander, yang pada kenyataannya tidak punya kemiripan semacam itu, ia memalsukan gambar-gambar tersebut. Pada sebagian kasus ia membuang organ dari embrio, pada yang lainnya ia menambahkan organ. Lebih jauh lagi, ia mengubah ukuran aktual dari embrio-embrio itu dalam upayanya untuk menunjukkan bahwa semuanya berukuran sama. Pendeknya, Haeckel melakukan pemalsuan ini untuk membuat bukti bagi hal yang tidak ada. Ada artikel pada Science, sebuah jurnal ilmiah yang bereputasi, dalam edisi 5 September 1997 menyebutkan: “Pada kenyataannya… bahkan embrio yang berhubungan sangat rapat seperti pada ikan cukup bervariasi dalam tampilan dan tahapan perkembangannya…. (Gambar-gambar Haeckel) tampaknya menjadi salah satu penipuan paling terkenal di dalam biologi.”4

Menariknya, penipuan ini telah diketahui selama bertahun-tahun. Gambar-gambar buatan Haeckel telah ditunjukkan sebagai pemalsuan pada masa hidupnya sendiri (1910), dengan pengakuannya pula. Di dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam American Scientist terbaca, “Sudah jelas hukum biogenetik telah benar-benar mati…. Sebagai topik penyelidikan teoreitis serius, ia telah punah pada tahun dua puluhan….” 5

Walau demikian, para evolusionis terus menggunakan gambar-gambar ini selama berpuluh-puluh tahun dengan tujuan semata untuk memerdayakan massa yang tidak memahami masalah ini.

Hanya ada satu alasan mengapa kaum Mason memandang teori Haeckel sebagai bukti untuk teori evolusi, dan menganggapnya sebagai seorang sarjana besar: dedikasi kaum Mason terhadap teori evolusi tidak dilandaskan pada hasrat mereka akan pengetahuan dan kebenaran, sebagaimana klaim mereka, namun sebaliknya, berasal dari kejahilan.


1 Naki Cevad Akkerman, Mimar Sinan, No. 1, hal.13
2 Selami Isindag, Masonluk Öðretileri, Masonluktan Esinlenmeler (Inspirations from Freemasonry), Istanbul, hal.137
3 Selami Isindag, Din Açýsýndan Mason Öðretisi (Masonic Doctrine According to Religion), Akasya Tekamül Mahfili Publications, hal.10
4 Elizabeth Pennisi, "Haeckel's Embryos: Fraud Rediscovered," Science, September 5, 1997
5 Keith S. Thompson, "Ontogeny and Phylogeny Recaputilated", American Scientist, vol. 76, hal.273


DOGMATISME DAN TRADISIONALISME MASONIK


Dogmatisme artinya secara membuta dan tanpa henti mendukung suatu pandangan yang tanpa bukti kesahihannya, oleh karena kecenderungan psikologis tertentu. Seorang dogmatis tidak menyelidiki atau memikirkan ulang sesuatu yang dipercayainya ada atau tidak ada buktinya. Dia menerima hal itu sepenuhnya dan bersikukuh meyakininya.

Kaum Mason dan kelompok-kelompok antiagama lainnya yang biasa menggunakan istilah “dogmatis” untuk menyebut mereka yang memercayai Tuhan. Kita seringkali menemukan tuduhan ini sekarang. Misalnya, di dalam sebuah debat tentang teori evolusi, pihak evolusionis mungkin akan menuduh mereka yang tidak menerima teori itu sebagai dogmatis, dan menyatakan diri mereka ilmiah dengan mempertahankan bahwa sains tidak punya kepentingan dengan “dogma-dogma”.

Namun, tuduhan ini keliru. Kepercayaan akan keberadaan Tuhan, dan bahwa Dia menciptakan segala sesuatu, adalah keyakinan yang didukung oleh banyak bukti ilmiah dan rasional. Ada keseimbangan, keteraturan, dan desain di alam, dan jelas bahwa ini dibangun secara cerdas dan dengan sengaja.

Karena itulah Al Quran menyeru manusia untuk menemukan tanda-tanda kebesaran Allah, dan mengajak mereka memikirkan keseimbangan, keteraturan, dan desain ini. Pada banyak ayat mereka disuruh untuk memikirkan bukti-bukti keberadaan Allah di langit dan di bumi. Bukti-bukti yang ditunjukkan di dalam Al Quran tersebut tidak hanya keseimbangan dan keteraturan di alam semesta, tetapi juga fenomena semacam kesesuaian dunia untuk kehidupan manusia, desain pada tumbuhan dan hewan, desain pada tubuh manusia, dan kualitas spiritual manusia, yang semuanya telah dibenarkan oleh sains modern. (Untuk perincian, lihat buku-buku Harun Yahya Mengenal Allah Lewat Akal, Penciptaan Alam Raya, Darwinisme Terbantahkan, Menyingkap Rahasia Alam Semesta, Desain di Alam).

Sebaliknya, dogmatisme adalah ciri dari mereka yang menolak untuk mempertimbangkan hal-hal ini, dan menolak Tuhan sembari terus mempertahankan pandangan bahwa alam semesta ada dengan sendirinya dan bahwa makhluk hidup muncul dari peristiwa kebetulan. Kaum Mason adalah contoh nyata dari cara pandang ini. Walaupun bukti-bukti keberadaan Allah begitu jelasnya, mereka lebih suka untuk mengabaikan dan menolaknya demi filosofi humanis dan materialis.

Di dalam Al Quran, Allah menyebutkan mereka yang bermentalitas demikian:


Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. Dan di antara manusia ada yang membantah tentang keesaan Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa kitab yang memberi penerangan.

Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang diturunkan Allah." Mereka menjawab, "(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya." Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun setan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)?” (QS. Luqman, 31: 20-21)


Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang tak bertuhan, “memperdebatkan tentang Tuhan” walaupun mereka melihat bukti-bukti tentang-Nya. Artinya, mereka berperang melawan agama-Nya. Penyebabnya adalah orang-orang tak bertuhan ini mengikuti apa mereka dapati dilakukan oleh nenek moyang mereka, artinya, mereka terperosok ke dalam tradisionalisme buta.

Jelaslah, bahwa tradisionalisme dengan tepat mendefinisikan sejarah dan filosofi Masonry sebagaimana telah kita kaji sejak awal buku ini.

Memang, tradisionalisme adalah kata yang pas untuk menggambarkan Masonry karena ia tidak lebih dari sebuah “organisasi tradisi”, yang akarnya merentang hingga ribuan tahun ke masyarakat-masyarakat pagan awal. Masonry dengan membuta mengikuti tradisi-tradisi Mesir Kuno dari para fir’aun dan tukang-tukang sihirnya, para filsuf materialis Yunani Kuno, Hermetisme, Kabbalah, para Templar, Rosicrucian, dan kaum Mason sebelum mereka.

Tradisionalisme ini penting untuk dikenali. Pada loge Masonik modern masih digunakan berbagai legenda, simbol, dan kata-kata yang telah berumur ribuan tahun. Walau pada kenyataannya hampir semua Mason berpendidikan tinggi, dan menduduki posisi-posisi tertinggi di masyarakat, mereka menyelenggarakan upacara-upacara di mana mereka memegang pedang berkilat dan tengkorak, menggumamkan kata-kata Mesir Kuno, berdiri di hadapan tiang-tiang bermodel kuil-kuil Mesir Kuno dengan mengenakan jubah perak, sarung tangan putih dan bahkan pakaian-pakaian yang lebih aneh lagi, dan mengangkat sumpah. Jika seseorang yang tidak mengetahui apa pun tentang Masonry dibawa ke loge ini, mungkin dia akan mengira sedang mengunjungi sebuah pentas film komedi, dan boleh jadi tidak sanggup menahan tawa menyaksikan kaum Mason di tengah upacara inisiasi, dengan mata tertutup rapat, tali di sekeliling lehernya, dan berjalan dengan satu kaki telanjang. Namun, kaum Masonry, yang hidup di dalam dunia rahasia mereka, menganggap upacara-upacara aneh ini sangat normal, dan mendapatkan kepuasan psikologis dalam suasana mistis loge mereka. Setelah berbagai upacara ini, mereka duduk dan berbincang-bincang sesamanya tentang keyakinan mereka bahwa “atom memiliki jiwa dan berkumpul membentuk makhluk hidup”, bahwa “dunia mencapai keseimbangannya karena kecerdasan yang tersembunyi di dalam magma”, atau bahwa “Ibu Alam telah menciptakan kita dengan begitu sempurna” serta mitos-mitos lainnya. Keseluruhan permainan ini dipanggungkan hanya untuk melestarikan tradisi, dan begitu jelas tanpa logika sama sekali sehingga menakjubkan bahwa sistem semacam itu dapat terus bertahan hidup dan dipertahankan.

Keterikatan buta kaum Mason akan tradisi mereka jelas menunjukkan keutamaan yang mereka berikan kepada gagasan tentang “landmark”. Landmark adalah sebuah tempat atau objek yang melambangkan sesuatu yang memiliki arti atau kepentingan historis. Di dalam bahasa Masonik, landmark adalah peraturan-peraturan yang telah diturunkan tanpa perubahan sejak berdirinya organisasi itu. Mengapa tidak berubah? Kaum Mason memberikan penjelasan yang menarik. Sebuah artikel yang terbit di Mimar Sinan pada tahun 1992 menyebutkan:

Landmark Masonry adalah hukum-hukum yang sangat tua yang telah diteruskan dari masa ke masa dan generasi ke generasi. Tidak seorang pun tahu kapan munculnya dan tidak seorang pun berhak mengubah atau membatalkannya. Landmark itu adalah hukum-hukum masyarakat yang tertulis dan tidak tertulis. Hukum-hukum yang tidak tertulis dapat dipelajari hanya dari berbagai ritual dan upacara loge. Ada enam hukum tertulis yang dapat ditemukan dengan nama “Kewajiban Freemason” yang pertama kali diterbitkan dalam Konstitusi Inggris tahun 1723. 117

Mari kita kaji kata-kata di atas lebih saksama: Ada sebuah organisasi bernama Masonry. Anggota organisasi ini selama berabad-abad telah menaati sejumlah hukum yang asal usulnya tidak diketahui. Lebih jauh lagi, mereka bersikeras bahwa tidak seorang pun dapat mengubah hukum-hukum ini. Tidak seorang pun dari mereka yang maju untuk mempertanyakan mengapa mereka mengikutinya!... Dan, demi menaati hukum-hukum ini, mereka siap sedia mengabaikan penemuan-penemuan sains dan kesimpulan logis mereka. Dapatkah masyarakat seperti itu mengikuti jalan "logika" dan "sains"?

Bagian lain dari artikel yang dikutipkan di atas, menyatakan secara harfiah bahwa seorang Mason harus mematuhi hukum-hukum tersebut tanpa bertanya:

Menurut pendapat saya, landmark adalah semacam bagian Masonry masa lalu yang saya tak pernah ingin tahu tentang asal usulnya, baik di loge maupun dalam aktivitas saya sebagai seorang freemason. Saya tidak tahan untuk menganalisa mengapa saya merasa demikian tetapi saya kira jika struktur Freemasonry tidak diubah, maka ia akan bertahan…. Saya menjalaninya tanpa perlu upaya khusus apa pun. 118

Bagaimana mungkin sebuah organisasi memunyai pengikut-pengikut yang memercayai dan mematuhi hukum-hukum yang tidak mereka ingin tahu asal usulnya dapat dipandang masuk akal?...

Sudah tentu, klaim Masonry sebagai masuk akal dan ilmiah adalah kosong belaka. Seperti para materialis lainnya, walaupun senantiasa menggunakan istilah-istilah logika dan sains, mereka pun dengan teguh mempertahankan sebuah filosofi yang tidak punya dukungan logis ataupun ilmiah, dan berpaling dari fakta-fakta yang telah ditemukan sains. Pada dasarnya, yang membawa para Mason ke dalam kesalahan seperti itu, atau mengguna-guna mereka, adalah keterikatan yang membuta akan tradisi mereka.

Ini menunjukkan bahwa ajaran Masonry bersifat memerdayakan. Ia menjauhkan manusia dari kepercayaan akan Tuhan mereka, menjerumuskan mereka ke dalam takhyul dengan mengikuti berbagai hukum, mitos, dan legenda kosong. Apa yang dikatakan Al Quran tentang kaum pagan di Saba, yang mengingkari Allah untuk menundukkan diri kepada Matahari, juga berlaku bagi Masonry: “Setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk…..” (QS. An-Naml, 27: 24). Kaum Mason mengingkari agama Allah demi sebuah doktrin yang ketinggalan zaman yang mereka kembangkan dengan berbagai simbol dan unsur mistis.

Lebih jauh lagi, tidak cukup hanya dengan mengingkari Tuhan, mereka memerangi agama-Nya, sebuah pertarungan yang telah mereka lakukan sejak lama.

1   ...   4   5   6   7   8   9   10   11   12

Свързани:

Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik iconДо: Медиите 11. 04. 2012 г. Изявление на btv media Group във връзка с разпространена информация от Global Vision
Във връзка с информацията, разпространената от продуцентска компания Global Vision на пресконференция, свързана с прекратяването...

Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik iconChapter 1 freemasonry (the masonic lodge/temple/order in the new age)

Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik iconFreemasonry has often been the target of negative reactions ranging from simple misunderstanding to outright hostility. One of the best opportunities for

Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik iconGlobal history II – research project

Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik iconPublished by Global Publishing at Smashwords

Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik iconBuilding Global Infrastructure: The Next 50 Years

Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik iconPublished by Global Publishing at Smashwords

Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik iconChina global logistics network

Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik iconThe Milken Institute Global Conference

Ancaman Global Freemasonry Terbongkarnya Sisi Gelap Pemikiran Masonik iconThe global economy: framing the issues

Поставете бутон на вашия сайт:
Документация


Базата данни е защитена от авторски права ©bgconv.com 2012
прилага по отношение на администрацията
Документация
Дом