Perbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah)




ИмеPerbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah)
Дата на преобразуване22.12.2012
Размер43.97 Kb.
ТипДокументация
източникhttp://blog.student.uny.ac.id/rizkyputri/files/2012/10/Perbedaan-Tradisi.docx
TUGAS KELOMPOK ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR

PERBEDAAN TRADISI (KEBIASAAN) DI DAERAH BANTUL (YOGYAKARTA), SLEMAN (YOGYAKARTA), SRAGEN (JAWA TENGAH), DAN KEBUMEN (JAWA TENGAH)”

DISUSUN OLEH :

  1. AFIF HENDRA WIDAYAT (12305141036)

  2. AHMAD MURSYID (12305141022)

  3. ARDILA DEWI SETYARSI (12305141002)

  4. HERDITA FAJAR ISNAINI (12305141010)

  5. RIZKY PUTRI ENGGAL ISWATI (12305141024)

KELOMPOK II KELAS MATEMATIKA SUBSIDI 2012



  1. LATAR BELAKANG

Dengan jumlah propinsi yang banyak dan masih terbagi lagi menjadi berbagai suku, negara Indonesia mempunyai kekayaan yang luar biasa dalam hal tradisi. Tradisi yang berkembang dalam setiap daerah berbeda-beda karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Namun perbedaan tradisi itulah yang menarik untuk dipelajari dan dipahami masyarakat Indonesia. Diharapkn dengan memahaminya, rakyat Indonesia bisa tetap melestarikan tradisi yang ada dalam masyarakat.



  1. RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimanakah tradisi (kebiasaan) yang berkembang dalam masyarakat di daerah Bantul, Yogyakarta?

  2. Bagaimanakah tradisi (kebiasaan) yang berkembang dalam masyarakat di daerah Sleman, Yogyakarta?

  3. Bagaimanakah tradisi (kebiasaan) yang berkembang dalam masyarakat di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta?

  4. Bagaimanakah tradisi (kebiasaan) yang berkembang dalam masyarakat di daerah Sragen, Jawa Tengah?

  5. Bagaimanakah tradisi (kebiasaan) yang berkembang dalam masyarakat di daerah Kebumen, Jawa Tengah?



  1. PEMBAHASAN

  1. Tradisi yang berkembang dalam masyarakat di daerah Bantul Yogyakarta

  1. Rebo Pungkasan (Desa Wonokromo, Plered, Bantul, Yogyakarta)

Berarti hari Rabu terakhir, yaitu hari Rabu pada bulan Sapar tahun Islam. Tradisi Rebo Pungkasan dianggap sakral dan penting bagi masyarakat Yogyakarta, karena menurut cerita pada hari Rabu terakhir merupakan waktu pertemuan antara Sri Sultan Hamengkubuwono I dengan Mbah Kyai Faqih Usman, seorang ulama Islam terkenal di Yogyakarta. Tradisi ini dilaksanakan sebagai wujud ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Puncak acara dalam tradisi ini adalah kirab lemper (makanan yang terbuat dari beras ketan) raksasa berukuran tinggi 2,5 m dengan diameter 45 cm dari Masjid desa Wonokromo menuju Balai Desa Wonokromo. Kirab ini diawali dengan barisan Kraton Yogyakarta, disusul lemper raksasa, dan kelompok kesenian rakyat seperti shalawatan, kubrosiswo, rodat dan sebagainya. Lemper tersebut pada akhirnya akan dibagikan kepada para undangan, dan diperebutkan oleh masyarakat karena dianggap sebagai berkah bagi yang bisa membawa pulang. Pergelaran tradisi ini juga diisi dengan pesta rakyat berupa pasar malam dan pergelaran seni tradisional.



  1. Tradisi Ngarak Ompak (Desa Pleret, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul)

Ngarak Ompak atau Mengirap Ompak, tradisi turun-temurun masyarakat Pleret yang dilakukan setiap awal tahun baru Islam atau bulan Syuro. Ompak adalah fondasi dari sebuah tiang bangunan model Jawa. Sebuah batu yang dibuat sedemikian rupa, dan sebuah Ompak itulah yang sampai sekarang ada di bekas Keraton Mataram, Dusun Kerta, Pleret. Tradisi Ngarak Ompak tetap dilestarikan oleh masyarakat Pleret dan sekitarnya. Tujuannya tak lain adalah mengenang Kejayaan Kraton Mataram Islam yang berpusat di Pleret.

Selain itu, perayaan ini memberikan apresiasi seni budaya kepada masyarakat, mengajak masyarakat untuk terlibat melestarikan seni budaya tradisi, dan mengajak generasi muda tetap menghargai sejarah serta jasa pahlawan dan menyambut Tahun Baru Hijjriah.



  1. Tradisi Nguras Enceh di Makam Imogiri

Prosesi nguras enceh dimulai sekitar pukul 09.00 dengan kenduri bersama yang dipimpin sesepuh jurukunci Puralaya Imogiri. Usai kenduri / selamatan dilanjutkan pencucian empat enceh Nyai Danumurti, Kyai Danumaya, Kyai Mendung dan Kyai Siyem.

Usai penyucian dilanjutkan dengan pengisian enceh. Luberan air dari encehdiperebutkan pengunjung yang dipercaya oleh mereka konon mempunyai khasiat tertentu. Air yang dimasukkan di dalam keempat genthong tersebut, dulu dipergunakan untuk berwudhu pendiri Mataram, Sultan Agung. Bahkan ketika itu, menurut cerita, air genthong dijadikan sarana pengobatan berbagai penyakit.



  1. Tradisi Obor Lebaran (Ringinharjo, Kecamatan Palbapang, Bantul)

Di daerah ini terdapat tradisi yang dikenal dengan pesta obor dan sate yang konon sudah ada sejak tahun 1943. Acara ini dilaksanakan setiap H+2 dan H+3 Lebaran, mulai sekitar pukul 19.00 - 22.00 WIB, masyarakat daerah ini mengadakan pesta obor yang dimainkan sekitar 40 orang. Obor yang digunakan berupa obor tradisional yang umumnya terbuat dari tali sabut / tampar, kawat, kain karung dan bambu itu sebelum dimainkan terlebih dulu harus direndam dengan minyak tanah, agar betul-betul basah dan bisa menimbulkan nyala api yang indah.


Sejarah pesta obor ini dimulai sekitar tahun 1930-an. Ketika itu di Ringinharjo berdiam seorang ulama yang gigih meneyebarkan Agama Islam di daerah setempat. Ulama yang cukup kharismatik itu bernama KH Kholil. Salah satu kebiasaan KH Kholil pada setiap Lebaran, adalah "bersedekah" (bersodaqoh) berupa makanan sate daging, minuman tradisional rujak kelapa muda dan berbagai macam makanan. Makanan dan minuman itu selalu disedekahkan kepada warga masyarakat setempat, sehingga sampai sekarang ini rujak kelapa muda dan sate daging menjadi menu khas dalam pesta rakyat tiap lebaran di Ringinharjo



  1. Tradisi yang berkembang dalam masyarakat di daerah Sleman Yogyakarta

  1. Tuk Si Bedug (kecamatan Seyegan, kabupaten Sleman, Yogyakarta)

Tradisi ini dilaksanakan sebagai wujud syukur masyarakat kepada Tuhan atas rejeki yang telah mereka terima.  Bagi warga Seyegan, tradisi Tuk Si Bedug memiliki arti penting. Begitu kuatnya kepercayaan mereka terhadap makna tradisi ini, karena itulah setiap tahun Tuk Si Bedug selalu dilaksanakan.  Biasanya, tradisi ini dilaksanakan selama beberapa hari pada pertengahan tahun, pada hari Jum’at Pahing di bulan Jumadil Akhir dalam kalender Jawa. Tuk merupakan sebutan bagi sumber air yang oleh masyarakat Seyegan diyakini tidak pernah mengalami kekeringan meskipun musim kemarau tiba.  Mereka percaya, Tuk itulah yang juga telah memberikan berkah kehidupan bagi seluruh warga Sleman. Karena, dari Tuk itulah, mereka dapat mengairi sawah dan ladang tempat mereka bercocok tanam.

  1. Upacara adat Saparan Bekakak (Desa Ambarketawang, Gamping, Sleman)

Penyembelihan bekakak, sepasang boneka temanten (pengantin Jawa) muda yang terbuat dari tepung ketan. Tradisi ini dilaksanakan setahun sekali dalam bulan Sapar dalam Kalender Jawa. Tradisi ini terkait dengan tokoh Ki Wirasuta, satu dari tiga bersaudara dengan Ki Wirajamba, dan Ki Wiradana yang merupakan abdi dalem Hamengkubuwana I yang sangat dikasihi.

Upacara Saparan semula bertujuan untuk menghormati kesetiaan Ki Wirasuta dan Nyi Wirasuta kepada Sri Sultan Hamengkubuwana I. Tapi kemudian berubah dan dimaksudkan untuk mendapatkan keselamatan bagi penduduk yang mengambil batu gamping agar terhindar dari bencana. Sebab pengambilan batu gamping cukup sulit dan berbahaya.



  1. Suran Mbah Demang (Dusun Modinan Desa Banyuraden, Gamping, Sleman)

Dilaksanakan setiap Bulan Suro pada tanggal 7 tepatnya saat tengah malam tanggal 8 Suro untuk mengenang perjuangan hidup Ki Demang Cokrodikromo. Seiring dengan perubahan zaman, upacara tradisi yang dilakukan juga mengalami perkembangan tanpa membuang tata cara upacara yang telah ada. Perkembangan tersebut dilakukan untuk memperkenakan keberadaan tradisi kepada masyarakat luas. Upacara tradisi Suran Mbah Demang berfungsi sebagai sarana komunikasi, silaturahmi antar warga Desa Banyuraden dan untuk melestarikan budaya leluhur yang diwariskan secara turun temurun. Tradisi ini merupakan akulturasi antara budaya asli, Islam, dan Hindu. Karena itu, Masyarakat Desa Banyuraden tetap melaksanakan tradisi tersebut untuk memajukan kebudayaan tradisional yang disejajarkan dengan kondisi masa kini.



  1. Tradisi yang berkembang dalam masyarakat di daerah Gunung Kidul Yogyakarta




  1. Merti Kali di Gunung Kidul

Sebagai ungkapan syukur atas nikmat yang telah diterima, masyarakat Kabupaten Gunungkidul memiliki sebuah ritual khusus, yaitu Merti Kali. Sayangnya, ritual tahunan ini sudah mulai terpinggirkan. Merti Kali merupakan sebuah tradisi yang syarat makna dan filosofi sebagai ungkapan syukur.

Tradisi ini diwujudkan dalam bentuk gunungan hasil bumi yang diarak menuju sungai yang akan didoakan oleh pemuka adat. Gunungan tersebut nantinya akan diperebutkan oleh seluruh warga dusun dan para tamu yang hadir.



  1. Tradisi Cing-cing Goling di Gunung Kidul

Dalam tradisi Cing-cing Goling didahului dengan upacara arak-arakan sesaji dan juga persembahan masyarakat. Simbol warok juga ditampilkan dalam acara yang rutin digelar setiap tahun ini. Upacara ini didahului dengan drama yang diperankan warga Gedangan, Gedang Rejo, Karangmojo.

Tarian tersebut, menceritakan pelarian prajurit Majapahit yang sudah bersatu dengan warga setempat, dalam mengusir penjahat diantaranya perampok. Bahkan pada adegan ini puluhan orang berlarian menginjak-injak tanaman pertanian milik warga setempat, di lahan disekitar bendungan, untuk mengusir gerombolan penjahat. Meskipun tanaman diinjak-injak, petani setempat tidak marah tetapi justru mengharapkan petak sawah mereka menjadi arena menjadi ajang tarian cing-cing Goling. Hal yang unik dan menarik dalam upacara ini adalah sesembahan yang dibawa masyarakat berupa 800 ingkung dan nasi. Uniknya dalam proses memasak, ingkung tersebut tidak boleh dicicipi oleh pemasaknya. Ingkung tersebut nantinya dikumpulkan dalam sebuah tempat dan dbagikan secara merata pada setiap orang yang hadir dalam acara tersebut, setelah didoakan sebelumnya.
  1. Upacara Tradisi Babat Dalan (Desa Sodo Kecamatan Paliyan, Gunung Kidul)


Upacara tersebut jatuh pada hari Jum’at Kliwon sebagai hari yang ditetapkan dikaitkan dengan jatuhnya musim Labuh (musim menabur benih polowijo). Persiapan upacara diawali dua hari sebelum hari “H” Sedangkan pada puncak acara diselenggarakan acara pokok yaitu Pengajian. Pada upacara tersebut kecuali dihadiri masyarakat setempat dan lingkungannya, dihadiri pula masyarakat dari luar daerah. Maksud dari kedatangannya adalah untuk melihat dari dekat tentang Upacara Tradisi Babat Dalan, juga sekaligus bermaksud untuk berziarah ke makam Ki Ageng Giring. Upacara Babat Dalan itu sendiri oleh masyarakat setempat bertujuan memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar selalu diberikan keselamatan baik lahir maupun batin, sekaligus untuk memperingati wafatnya Ki Ageng Giring.

  1. Tradisi Rasulan atau Bersih Desa di Gunung Kidul

Tujuan dari di adakannya tradisi rasulan adalah untuk bersyukur kepada Yang Maha Esa karena telah selesai panen. Pada tiap-tiap dusun, rasulan di adakan pada waktu yang berbeda-beda. Dalam suasana rasulan akan di pentaskan tontonan-tontonan yang meriah seperti pentas ketoprak, seni jathilan, kesenian reog, pentas wayang kulit, turnamen bola voli, dan acara meriah lainnya. Kalau di daerah saya Tepus, pada saat rasulan tidak lupa tiap-tiap RW (Rukun Warga) akan membuat sebuah 'gunungan', yaitu sejenis patung atau miniatur yang di hias dan di arak beramai-ramai keliling dusun.



  1. Tradisi yang berkembang dalam masyarakat di daerah Sragen, Jawa Tengah

  1. Jumat Paingan (Desa Grasak, Kecamatan Gondang)

adalah suatu ritual bersih desa. Dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu :

  • nyadran (syukuran, dilakukan pada pagi hari)

  • kesenian reog (memainkan kesenian reog sambil berkeliling desa)

  • jembulan (berbagai makanan, uang, dll ditancapkan pada pohon pisang lalu di doakan, setelah itu penonton berebut uang dan makanan)

  • pagelaran wayang semalam suntuk



  1. Pasar Malam Cembeng: Tradisi Sebelum Mulainya Giling Tebu di Pabrik Gula Mojo Sragen

Cembeng / Cembengan / Cembrengan adalah kegiatan ritual dan perayaan keselamatan sebelum pabrik gula mengadakan musim giling. Hampir semua pabrik gula di Jawa terutama yang pabriknya berasal dari peninggalan Belanda mengadakan acara cembeng. Biasanya perayaan ini ditujukan untuk buruh pabrik dan masyarakat sekitar. Perayaannya dengan pasar malam dan beberapa jualan dan hiburan untuk rakyat. Juga untuk perayaan panen raya Tebu. Kegiatan selamatan giling berupa  peletakan batu pertama untuk menandai bahwa Pabrik Gula telah siap giling, puncak acara dalam ritual selamatan giling tersebut adalah methik (pemetikan) tebu temanten sampai dengan penggilingan tebu temanten.Tebu temanten tersebut terdiri dari tebu lanang (laki-laki) dan wedok (perempuan) yang dipethik dari kebun tebu. Kemudian tebu tersebut diletakkan di kantor tebang angkut yang terletak di kompleks PG Mojo. Selanjutnya, setelah uborampe (perlalatan) upacara selamatan lengkap, dipanjatkan doa bersama yang dipimpin oleh seorang modin dengan ujub (niat) diberikan keberhasilan sehingga memperoleh keuntungan dan keselamatan karyawan dan mesin-mesinnya.



  1. Tradisi Rodat, Seni untuk Berjuang (Desa Saren, Sragen, Jawa Tengah)

Rodat merupakan bentuk seni tradisi masyarakat Sragen yang berkembang seiring masuknya Islam ke wilayah itu. Seni tradisi ini menggabungkan seni musik rebana, jidor (semacam beduk), dan gong dengan tarian yang dimainkan pria. Rodat juga berkembang di daerah lain di Tanah Air dengan nama berbeda-beda. Kesenian ini merupakan media untuk menyebarkan ajaran Islam lalu untuk sarana perjuangan pada masa sebelum kemerdekaan. Sragen menjadi titik penting dalam perkembangan kesenian rodat karena di wilayah ini rodat dimanfaatkan sebagai sarana perjuangan yang efektif. Pertunjukan rodat biasanya diadakan semalam suntuk yang bertujuan untuk mengelabui Belanda yang sedang berpatroli.



  1. Tradisi yang berkembang dalam masyarakat di daerah Kebumen, Jawa Tengah

  1. Tradisi Sorogan (kebumen Lor)

Adalah pengiriman bingkisan makanan yang sudah membudaya. Tradisi ini dikenal sejak zaman dulu. Sebelum perhelatan warga sengaja mengirim "upeti" makanan yang serba enak kepada pejabat / orang terpandang di desanya. Tujuannya sekadar ngabekti (penghormatan) dari kawulo alit (warga desa) kepada pangreh praja (pejabat) yang menjalankan roda pemerintahan desa. Tetapi tradisi sorogan yang berlaku sekarang nampaknya sudah jauh menyimpang - menjadi semacam undangan paksa. Pengiriman surat uleman (undangan) yang dulu berlaku kini lenyap, diganti nasi bungkus (nasi plus sayur-mayur sekadarnya) kepada warga desa lain yang (dianggap) dikenalnya. Ini pun tidak dipilah-pilah mana warga yang mampu menyumbang dan yang tidak mampu.

  1. Gebyang Cah Angon (Desa Entak, Kecamatan Ambal, Kebumen)

Tradisi ini dimulai dengan arak-arakan sapi oleh pemiliknya digelar setiap tanggal 12 Rabilul Awal. Arak-arakan dimulai dari perkampungan hingga lokasi tempat acara dimulai yakni di persawahan di pinggir pantai. Sebelum diarak setiap pemilik ternak / cah angon mendandadani sapi dengan berbagai aksesoris. Setelah memarkir sapinya, para pemilik sapi dan warga lainnya kemudian ke pantai Pranji. Mereka membawa bekal untuk dimakan bersama-sama (entak-entik) di pantai. Tradisi tersebut sebenarnya hampir sama dengan tradisi bongkohan di Kecamatan Puring.

Puncak acara gebyag cah angon, ratusan warga bersama-sama melakukan besem / bakar gubug sebagai simbol agar para pemilik ternak dijauhkan dari sengakala dan diberi keselamatan. Dimeriahkan dengan berbagai hiburan kesenian tradisional seperti penampilan kelompok kuda kepang, ndolalak dan panjat pinang.


  1. Petasan teko dan lampion terbang di bulan ramadhan

Untuk tradisi petasan teko umumnya petasan ini dibuat sendiri dengan kertas bekas yang digulung dengan padat, kemudian diberi mercon dan sumbu agar menjadi petasan yang memiliki daya ledakan yang besar. Tak heran setiap harinya disepanjang jalan di kota Kebumen banyak terhampar puing-puing sobekan kertas bekas ledakan petasan yang salah satunya diledakan sebagai pertanda sudah tiba adzan magrib.

Tradisi lain yang sampai saat ini masih terjaga yaitu menerbangkan lampion/ balon terbang yang dibuat sendiri secara gotong-royong oleh penduduk setempat. Bahannya adalah kertas yang dibentuk menyerupai balon udara raksasa yang dibagian bawahnya dipasang bambu untuk penompang bandul api sebagai bahan bakar agar balon tetap terbang.

Umumnya Lampion diterbangkan menjelang malam hari sehingga ketika malam tiba terkadang kita dapat melihat puluhan lampion terbang bersinar tarang memancarkan cahayanya dan menghiasi langit kota Kebumen dengan cantiknya. Tradisi ini juga dilakukan dibeberapa kota disekitar Kebumen salah satunya juga ada di kota Garut.



  1. KESIMPULAN DAN SARAN`

  1. Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa sehingga memiliki banyak tradisi, diantaranya :

  • Di Bantul (Yogyakarta) : Rebo Pungkasan, Ngarak Ompak, Nguras Enceh, dan Obor Lebaran

  • Di Sleman (Yogyakarta) : Tuk Si Bedug, Saparan Bekakak, dan Suran Mbah Demang

  • Di Gunungkidul (Yogyakarta) : Merti Kali, Cing-cing Goling, Babat Dalan, dan Rasulan atau Bersih Desa

  • Di Sragen (Jawa Tengah) : Jumat Paingan, Pasar Malam Cembeng, dan Rodat

  • Di Kebumen (Jawa Tengah : Sorogan, Gebyang Cah Angon, Petasan teko dan lampion terbang

  1. Berbagai macam tradisi yang ada di Indonesia dipengaruhi oleh : letak daerah, kepercayaan, sejarah (pemimpin dahulu), adat istiadat, dan kebiasaan.

  2. Sebagai pemuda Indonesia, kita harus melestarikan tradisi budaya yang ada dalam masyarakat tetapi yang sesuai dengan aturan yang berlaku saat ini. Tetapi perbedaan tradisi yang ada jangan di jadikan alat untuk memecah belah Indonesia tetapi semakin mempersatukan kita dalam perbedaan yang indah.




  1. DAFTAR PUSTAKA

http://www.wisatamelayu.com/id/tour/1080-Tradisi-Rabo-Pungkasan/navcat

http://bantulbiz.com/id/bizpage_budaya/id-255.html

http://news.okezone.com/read/2009/12/20/340/286672/warga-bantul-gelar-tradisi-ngarak-ompak

http://bantulbiz.com/id/bizpage_budaya/id-148.html


http://www.slemankab.go.id/740/tradisi-tuk-si-bedug-sleman-yogyakarta.slm

http://id.wikipedia.org/wiki/Ambarketawang,_Gamping,_Sleman#Tradisi_Saparan_Bekakak

http://digilib.uin-suka.ac.id/2535/


http://travel.detik.com/readfoto/2012/06/15/083220/1941914/1026/1/merti-kali-tradisi-yang-hampir-terlupakan-di-gunungkidul

http://jogja.tribunnews.com/2012/07/05/gelaran-tradisi-cing-cing-goling-di-gunungkidul

http://desasodo.wordpress.com/

http://cybersatu.blogspot.com/2012/06/tradisi-rasulan-atau-bersih-desa-di.html


http://kangbison.wordpress.com/2012/05/01/pasar-malam-cembeng-tradisi-sebelum-mulainya-giling-tebu-di-pabrik-gula-mojo-sragen/

http://www.wartakotalive.com/mobile/detil/73159


http://kedungwaru.blogspot.com/2009/04/test-tes-tes.html

http://irwantav.wordpress.com/2012/02/11/tradisi-unik-dari-kabupaten-kebumen-tradisi-gebyag-cah-angon/

http://shu-travelographer.blogspot.com/2012/08/tradisi-menghiasi-langit-kota-kebumen.html

Добавете документ към вашия блог или уеб сайт

Свързани:

Perbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah) iconPeraturan daerah provinsi daerah istimewa yogyakarta

Perbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah) iconYogyakarta is a big city in central Java. This city is not really very big, but it is well known enough throughout Indonesia as a student’s city. There are many

Perbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah) iconТз по проекту "перенос сайта church by" на cms Wordpress
Сохранение всех урлов в том же виде (на всех старых урлах должны быть рабочими jawa и php скрипты, в частности должны быть рабочими...

Perbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah) iconPara pemrakarsa dan pendukung pansus dpr ri untuk penanganan agraria dan sumber daya alam di indonesia

Perbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah) iconYang terhormat Sekretaris Jenderal, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan, Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial, dan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia, beserta jajarannya

Perbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah) iconSeiring dengan berkembangnya zaman pada era globalisasi saat ini segala informasi, ilmu pengetahuan dan kebudayaan telah mudah untuk di dapat dan di pelajari

Perbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah) iconPerbedaan Manusia Dengan Makhluk Lainnya

Perbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah) iconAdalah sebuah company dan wadah kreativitas anak muda yang diekspresikan dalam bentuk karya tari yang enerjik, menarik dan dinamis

Perbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah) icon1 Potensi daerah Purworejo

Perbedaan tradisi (kebiasaan) di daerah bantul (yogyakarta), sleman (yogyakarta), sragen (jawa tengah), dan kebumen (jawa tengah) iconDiperkirakan ± 500 tahun sebelum masehi sudah terdapat kehidupan manusia di daerah Kuningan, hal ini berdasarkan pada beberapa peninggalan kehidupan di zaman

Поставете бутон на вашия сайт:
Документация


Базата данни е защитена от авторски права ©bgconv.com 2012
прилага по отношение на администрацията
Документация
Дом